Bukan Sebuah Mimpi
semua pasti ada jalan jika ada kemauan dan usaha
Senin, 28 November 2016
Berbagi Kebaikan melalui MSI
Hidup seseorang kitakan berarti bukan ketika dia sukses, kaya raya, namun hidup berarti itu adalah ketika kita berguna bagi orang lain. MSI adalah singkatan dari Multy Sukses Internasional yang mana merupakan suatu perusahaan yang menjual beraneka ragam produk kecantikan dan kesehatan. Salah satu produk MSI adalah Multy spray. Namanya saja multy berarti banyak memiliki manfaat. Ya, benar. Multy spray bisa dipakai untuk kecantikan dan P3K jg loh. Kamu yang punya masalah dengan jerawat? Semprot saja 3-4 kali dengan multy spray. Gampang kan? Punya masalah sariawan. Sama solusinya semprot saja dengan multy spray. Masalah luka, ruam popok, sakit gigi, cacar, gatal-gatal, mata minus, katarak, dll. Banyak banget kan? Kalaubpenasaran seperti apa produknya. Yuk liat gambarnya
Selasa, 01 November 2016
My Hobby
Jambu biji (guava) adalah salah satu tanaman favoritku. Buah ini memiliki banyak sekali manfaat dan enak pula di makan. Buah ini juga mudah di kembangbiakkan yaitu dengan mencangkok atau menanam dari biji. Ingin sekali aku memiliki kebun buah namun sayang belum di ACC orang tua
Minggu, 30 Oktober 2016
Kebun buah
Dari dulu, ketika orang bertanya "apa impianmu?" Ku menjawab,"punya kebun buah". Ku kira impian itu akan hilang seiring dengan kesibukan di dunia kerja. Tapi malah sebaliknya, adanya penghasilaan malah membuatku semakin menghayal jauh. Punya kebun buah yang desainnya dengan jambu biji sebagai pagar mengelilingi lahan, di tengah-tengah tanaman Kelengkeng di tepi kebun ada alpukat, pepaya, macam-macam srikaya, belimbing, binoa, sirsat dan buah lainnya. Kalau ditekuni insyaallah akan menambah income keluarga. Harapan dan doa semoga bisa terwujud dalam waktu dekat. Amin ya Robb.
Selasa, 29 Desember 2015
It's My Life
BERMIMPI DAN
KEJARLAH HINGGA KAU MENCAPAINYA
Diana
namaku, anak desa yang hidup ditengah keluarga seorang petani. Lingkungan yang
kental dengan tradisi yang tak begitu cocok denganku menuntutku untuk berubah.
Nikah muda, hidup bergantung pada orang tua itulah budaya di desaku. Tapi aku
tak mau mengikuti budaya itu, malu dan belum siap jika harus mengakhiri masa
remajaku untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. “mau dikasih makan apa ya
anakku kelak, kalau aku nikah muda dan belum bisa bekerja?”. Itu yang ada dalam
otak seorang anak kecil yang masih duduk di bangku kelas 6. Pertanyaan yang
menarik dari guruku, “setelah lulus sekolah dasar mau kemanakah kamu?”. Banyak
teman-temanku menjawab “mondok bu”. Ya tidak heran karena telah terdoktrin dari
lingkungan keluarga dan masyarakat yang budayanya dari dulu sudah begitu. Lulus
SD, mondok 1-3 tahun setelah itu nikah. Memang kebanyakan perempuan yang
mengikuti budaya itu. Aku juga mendapat doktrin yang sama. Kedua orang tuaku
merupakan alumni pesantren, kakak-kakak sepupu
juga alumni pesantren semua. Mau lulus SD rasanya aku tak punya pilihan
apalagi bermimpi untuk menentang budaya yang sudah dari dulu melekat di desaku
itu. Ada yang lebih parah malah, di desa tetangga yang letaknya dalam hutan,
anak perempuan baru lahir saja udah ada yang ditunangkan alias dijodohkan.
Pamali katanya jika punya anak gadis hingga usia 17 tahun belum nikah seperti
mala petaka buat keluarga. Tapi ya begitulah nyatanya.
Bagaimana
aku bisa bermimpi, sebelum mimpi saja sudah dibangunkan. Hampir kelulusan orang
tuaku sudah mempersiapkan segala keperluan untuk masuk pesantren, mau bilang
tidak mau rasanya takut. Tapi guruku pernah berkata “jangan pernah takut untuk
bermimpi karena hidup berawal dari sebuah mimpi”. Aku memang hanya anak yang
belum bisa hidup sendiri tanpa orang tua waktu itu. Aku punya mimpi untuk
sekolah di SMP Favorit di kota. Mencoba mengungkapkan keinganku pada orang tua
adalah awal aku mencoba mengejar mimpiku. Dorongan dari guru yang menjadi wali
kelas 6 adalah motivasi terbesarku waktu itu. 1, 2, 3 benar adanya seperti
dibangunkan dari tidur dengan cara disiram air satu ember. Mimpiku ditentang
oleh keluarga besarku terutama bapakku. Kata “Tidak” langsung keluar dengan
tegas. Pondok dan Pondok adalah masa depanku di mata orang tuaku.
Usia
12 tahun dihadapkan pada dua pilihan berat, patuh pada orang tua atau mengejar
mimpi ? pada saat itu aku berpikir tak ada orang tua yang tidak akan memaafkan
anaknya. Jadi aku milih untuk mengejar mimpiku. Mimpi baru dimulai ketika guru
mendaftarkanku di SMP Favorit itu, kacau pikiranku saat itu, ingin rasanya
mempersiapkan diri dengan beajar untuk tes seleksi, tapi tentangan orang tua
yang setiap hari aku dengan membuat perlahan mimpi itu kabur.
Dag,
dig, dug suasana tegang tes seleksi penerimaan siswa baru dilaksanakan, melihat
sekelilingku anak-anak yang lain didampingi oleh keluarga atau saudaranya. Aku
hanya seorang diri. Saat mengerjakan soal tanganku rasanya berat dan pikiranku
hanya terisi orang tua yang tak setuju dengan mimpiku, pasrah tanpa ada
persiapan apapun itu yang terjadi saat itu. Hampir saja aku menghapus mimpiku.
Pengumuman
hasil seleksi telah keluar, dari 325 siswa yang diterima ada salah satu namaku
disana walau dengan nilai yang tidak memuaskan tapi itu cukup meyakinkan aku
bahwa aku tidak salah telah mengejar mimpiku. Dengan diterima di SMP itu bukan
berarti hati orang tuaku luluh. Semua memang butuh perjuangan, guru yang selalu
mendukung dan memberi semangat takkan pernah akan ku lupakan.
Satu
mimpiku telah terwujud karena usaha untuk mengejarnya sampai tercapai.
Perhatian orang tua terutama bapak tidak aku dapatkan saat kelas satu SMP saat
itu, hanya uang yang diberikan untuk biaya sekolah. Orang tua hanya tahu nilai
raporku, mereka tak pernah peduli aku mau sekolah, belajar, ujian atau tidak.
Jika ada surat undangan dari sekolah baru bapakku menghadirinya. Tidak hanya
dari bapak tentangan itu, tapi juga dari orang-orang disekitarku. Mereka Selalu
meremehkan “buat apa sekolah tinggi-tinggi hanya menghabiskan uang, perempuan
ujung-ujungnya ke dapur”. Kata-kata yang tidak bersahabat denganku itu aku
jadikan cambuk untuk terus mengejar mimpiku agar aku bisa buktikan bahwa
pikiran mereka terlalu sempit melihat perempuan. Aku pengen buktikan aku tidak
salah bermimpi dan keluar dari zona budaya yang telah melekat dari dahulu di
desaku itu. Aku adalah anak pertama yang menentang budaya bahkan menentang
keinginan orang tuaku hanya demi mimpi.
Jika
melihat keadaan ekonomi orang tua, aku mungkin memang tidak seharusnya bermimpi
terlalu tinggi. Penghasilan dari seorang petani tidaklah seberapa, kadang bapakku
harus bekerja tambahan seperti menjala udang walau hujan-hujan, menjadi buruh
cangkul untuk menghidupi keluarga. Apalagi biaya sekolah sangat mahal, bapak
harus pinjam uang disana-sini untuk biaya aku sekolah. Tapi ketika kita
berusaha untuk mencapai sesuatu yang baik, Allah akan selalu memberi jalan. Jalan
itu ditunjukkan ketika aku mendapat beasiswa 120 ribu selama satu semester,
paling tidak bisa membantu untuk mengurangi beban membayar uang buku.
Pintar
bukan segala-galanya tapi keinginan kuat dan usaha keras dapat membuat
perubahan yang besar. Terkadang aku merasa iri dengan teman-teman yang sangat
diperhatikan orang tuanya, dalam pikiranku terlintas kapan ya aku bisa seperti
mereka? Tidak mendapat perhatian
bukan berarti alasan untuk tidak semangat menuntut ilmu justru itu adalah
penyemangat untuk semakin rajin agar aku bisa meluluhkan hati orang tuaku
terutama bapak.
Ketika
memakai seragam sekolah tidaklah terlihat perbedaan ekonomi antara siswa yang
satu dengan yang lain. Semua memakai seragam yang sama dan mendapat perlakuan
yang sama di sekolah. Akan tetapi saat penerimaan raport, halaman sekolah penuh
mobil mewah berjejer, sepeda motor berbagai merk bisa ditemui. Hal itu menyadarkanku bahawa aku harus
bersyukur, orang tuaku bukan orang yang mampu tapi aku bisa sekolah di sekolah
itu. Bapakku mengambil raport naek angkot. Secara tidak sadar aku
berkata pada bapak “kapan ya punya mobil kayak gitu?”. Secara tidak sadar aku
lagi-lagi bermimpi di siang hari bolong. Bapak berkata dengan sedikit
leluconnya “kita lebih kaya dari mereka, mereka hanya punya satu mobil, kita
punya banyak mobil tinggal milih saja dengan tiap mobil ada supir pribadinya
(angkot)”. Itu membuatku tertawa “iya pak benar, dengar harga murah kita bisah
milih sesuai selera”.
Perlahan
orang tuaku mulai peduli setelah hasil raport yang cukup baik dan bisa masuk 10
besar di kelas. Bapakku sudah mulai
menunjukkan perhatian dengan membantu aku mengerjakan PR Pendidikan agama
islam. Dengan keadaan ekonomi keluarga yang demikian membuat aku lebih
memikirkan keluarga apalagi aku punya adik yang juga sekolah. Menghabiskan uang
untuk keperluan yang tidak penting membuatku harus berpikir panjang.
Menjelang
UN budaya desa mendekatiku, keluarga sahabat dari kecil kerumah. Mereka meminta untuk bertunangan. Saat itu aku dihadapkan pada dua pilihan
“mengejar mimpi untuk mencari ilmu dan mendapat pendidikan yang tinggi atau
menerima lamaran dan berhenti berharap untuk bisa sampai lulus SMA”. Pilihan
yang begitu sulit karena dia adalah sahabat yang selalu melindungiku dari
kecil, aku tidak ingin kehilangannya dan orang tuaku juga menyukainya karena
anaknya sangat santun dan baik. Saat itu aku dituntut untuk dewasa dan bijak,
butuh waktu semalam suntuk untuk memutuskannya. Aku menyadari semua keputusan
pasti akan ada resiko. Aku tetap konsisten memilih meraih mimpiku. Memang benar
aku kehilangan sahabat terbaikku, tapi
semua ada hikmahnya walau kadang kala tidak kita sadari saat itu juga.
Hampir kelulusan dari SMP hal yang pernah aku
alami semasa hampir kelulusan SD terjadi lagi. Orang tua menyuruh masuk
pesantren lagi, tapi kali ini usaha sahabat-sahabatku yang dapat membuka mata
kedua orang tuaku. Orang tuaku mulai terbuka dan demokratis, mereka memberi aku
pilihan “pilih mondok atau sekolah SMA?” tanpa keraguan aku memilih sekolah
SMA. Alhamdulillah kali ini orang tuaku mendukung dan aku juga diterima
di SMASA.
Seakan
tidak ingin seperti kisah saat aku SMP yang mana Bapak tidak mau tahu dengan
tata cara masuk sekolah baik registrasi bahkan administrasi, bapak menemaniku
daftar ulang. Senang rasanya, tapi di pundakku terasa semakin berat. Aku punya
beban untuk tidak membuat orang tua kecewa, tapi beban itu tidak aku jadikan
pikiran melainkan aku jadikan sebagai motivasi untuk lebih giat belajar. Mimpi
untuk mendapat pendidikan yang tinggi kali ini semakin dekat aku raih. Selalu
optimis dan jujur itu adalah prinsip hidupku, setiap keinginan pasti ada jalan.
Sejak
SMA orang tuaku mulai memberi kebebasan pada anaknya dengan pesan “kamu boleh
berteman dengan siapa saja tanpa pandang bulu, tapi ingat jangan lupa shalat,
jangan sampai mempermalukan orang tua dan harus bertanggung jawab dengan apa
yang kamu lakukan”. Pesan yang singkat tapi sangat bermakna. Aku rasa, aku semakin dekat dengan impianku
yaitu meraih mimpi.
“Jangan
pernah takut untuk bermimpi dan jika kamu mempunyai mimpi kejarlah sampai kamu
mendapatkannya. Jangan takut terlebih dahulu sebelum mencoba”.
#Kamu dapat melakukan dan mendapatkan apa yang kamu inginkan dengan kerja keras dan berdoa karena semua impian tidak akan datang sendiri dengan hanya bermimpi
Langganan:
Komentar (Atom)







